Rantai Kendur Karena Sok

gambar 1Ada kejadian di mana kita merasa rantai motor cepat kendur. Padahal power motor biasa-biasa aja. Dan cara kita memacu kuda besi tidak sering dientak-entak, buka-tutup gas mendadak. Ujung-ujungnya, kualitas rantai yang disalahkan. Lebih parah lagi sampai menyalahkan pabrikan salah mendesain.

Namun, menurut Zainudin, bukan hanya cara berkendara kita yang mempengaruhi rantai cepat kendur. “Coba perhatikan, seberapa berat beban yang diangkut motor. Dan seberapa berat medan jalan yang kita tempuh,” bilang mekanik road race kawakan dari wilayah Jelambar, Jakarta Barat.

Dari omongan tadi, Zainudin mau menjelaskan panjang kali lebar. Bahwa sesungguhnya ada hubungan antara ketegangan rantai dengan beban yang diangkut motor. Kuda besi yang sering dibebani bobot berat, rantainya akan jadi lebih sering kendur. Kalau mau diperhatikan lagi, biasanya kuda besi dengan sokbreker tunggal di belakang, alias monosok, rantainya lebih cepat kendur.

“Medan jalan keriting yang sering dilalui pun membuat rantai cepat kendur. Semakin sering lengan ayun bergerak rantai akan sering ketarik-tarik. Jika jarak mainnya terlalu sempit, maka rantai akan cepat melar. Jadi ketegangan rantai berkait dengan setelan kekerasan sokbreker,” terang mekanik yang kini menukangi tim balap Yamaha Yamalube Rafid Poppy ini.

Analisis Bang Jay, begitu biasa Zainuddin dipanggil, ketegangan rantai dipengaruhi gerak lengan ayun. Semakin besar jarak main poros lengan ayun, rantai akan makin tegang. “Makanya, dari pabrikan disarankan agar jarak bebas rantai sekitar 20-30 mm,” papar Bang Jay.

Jarak bebas yang ditentukan pabrikan tadi tentunya diperhitungkan sesuai dengan kemungkinan gerak poros swing-arm saat motor mendapat beban. Pasalnya perubahan posisi lengan ayun berpengaruh pada jarak bebas rantai.

Kaitannya dengan sokbreker, gerak lengan ayun dipengaruhi oleh kekerasan sok setelah mendapat beban. “Makin keras sokbreker, maka jarak main lengan ayun makin sempit. Makin berat beban yang dipanggul motor, maka gerak lengan ayun makin besar,” bilang Bang Jay.

Dari situ sebenarnya, kita bisa mengambil pelajaran. Untuk bisa pas menyetel ketegangan rantai, kita tidak bisa berpatokan saat motor tanpa beban diposisikan dengan standar tengah. Sebab setelan ketegangan rantai harus saat motor mendapat beban.

“Harusnya begitu! Menyetel rantai pada saat motor dinaiki dengan beban yang biasa diangkut. Jadi menyetel rantai motor yang biasa ditunggangi dua orang dengan satu orang akan beda jarak bebasnya. Usahakan agar rantai masih ada jarak bebas meski ditunggangi bobot terberat yang biasa diangkut,” tegas kiliker berpostur buncit itu.

Namun jangan keburu ngelencer setelah setelan rantai sudah disesuaikan dengan bobot. Coba sampeyan turun dari kuda besi. Lanjut cek kembali jarak bebas rantai saat motor tanpa beban. Jika jarak main rantai lebih dari yang dianjurkan pabrikan, berarti setelan kekerasan sokbreker terlalu empuk. Karena, sokbreker kembali meregang dan posisi lengan ayun kembali ke awal. Pokoknya, jarak main bebas rantai diusahakan antara 20-30 mm saat tanpa beban.

Ingat itu!

PASTIKAN SETELAN DI TENGAH

Untuk penyetelan rantai, biasanya pabrikan memberi patokan dengan garis-garis di lengan ayun dan titik di penyetelnya. Pertemuan titik penyetel dan garis di lengan ayun pada sisi kiri harus sama dengan sisi lainnya.

“Jika tidak sama, bisa dipastikan as roda tidak rata tegak lurus terhadap motor. Akibatnya, posisi roda belakang tidak sejajar roda depan. Imbasnya, jalur rantai pun ikut tidak sejajar antara gir depan dengan gir belakang. Ini membuat rantai cepat rusak,” tegas Bang Jay yang berkumis itu.

Memang, pabrikan menyiapkan beberapa garis penanda di lengan ayun. Namun sebaiknya posisi titik di penyetel rantai beradi di garis tengah patokan di lengan ayun. Soalnya ini berkaitan dengan wheel-base.

“Makin mulur rantai, jarak antar roda makin jauh. Ini membuat motor jadi tidak lincah lagi. Sebaliknya, terlalu pendek jaraknya, bikin motor tidak stabil di tikungan,” warning Bang Jay.Ada kejadian di mana kita merasa rantai motor cepat kendur. Padahal power motor biasa-biasa aja. Dan cara kita memacu kuda besi tidak sering dientak-entak, buka-tutup gas mendadak. Ujung-ujungnya, kualitas rantai yang disalahkan. Lebih parah lagi sampai menyalahkan pabrikan salah mendesain.

Namun, menurut Zainudin, bukan hanya cara berkendara kita yang mempengaruhi rantai cepat kendur. “Coba perhatikan, seberapa berat beban yang diangkut motor. Dan seberapa berat medan jalan yang kita tempuh,” bilang mekanik road race kawakan dari wilayah Jelambar, Jakarta Barat.

Dari omongan tadi, Zainudin mau menjelaskan panjang kali lebar. Bahwa sesungguhnya ada hubungan antara ketegangan rantai dengan beban yang diangkut motor. Kuda besi yang sering dibebani bobot berat, rantainya akan jadi lebih sering kendur. Kalau mau diperhatikan lagi, biasanya kuda besi dengan sokbreker tunggal di belakang, alias monosok, rantainya lebih cepat kendur.

“Medan jalan keriting yang sering dilalui pun membuat rantai cepat kendur. Semakin sering lengan ayun bergerak rantai akan sering ketarik-tarik. Jika jarak mainnya terlalu sempit, maka rantai akan cepat melar. Jadi ketegangan rantai berkait dengan setelan kekerasan sokbreker,” terang mekanik yang kini menukangi tim balap Yamaha Yamalube Rafid Poppy ini.

Analisis Bang Jay, begitu biasa Zainuddin dipanggil, ketegangan rantai dipengaruhi gerak lengan ayun. Semakin besar jarak main poros lengan ayun, rantai akan makin tegang. “Makanya, dari pabrikan disarankan agar jarak bebas rantai sekitar 20-30 mm,” papar Bang Jay.

Jarak bebas yang ditentukan pabrikan tadi tentunya diperhitungkan sesuai dengan kemungkinan gerak poros swing-arm saat motor mendapat beban. Pasalnya perubahan posisi lengan ayun berpengaruh pada jarak bebas rantai.

Kaitannya dengan sokbreker, gerak lengan ayun dipengaruhi oleh kekerasan sok setelah mendapat beban. “Makin keras sokbreker, maka jarak main lengan ayun makin sempit. Makin berat beban yang dipanggul motor, maka gerak lengan ayun makin besar,” bilang Bang Jay.

Dari situ sebenarnya, kita bisa mengambil pelajaran. Untuk bisa pas menyetel ketegangan rantai, kita tidak bisa berpatokan saat motor tanpa beban diposisikan dengan standar tengah. Sebab setelan ketegangan rantai harus saat motor mendapat beban.

“Harusnya begitu! Menyetel rantai pada saat motor dinaiki dengan beban yang biasa diangkut. Jadi menyetel rantai motor yang biasa ditunggangi dua orang dengan satu orang akan beda jarak bebasnya. Usahakan agar rantai masih ada jarak bebas meski ditunggangi bobot terberat yang biasa diangkut,” tegas kiliker berpostur buncit itu.

Namun jangan keburu ngelencer setelah setelan rantai sudah disesuaikan dengan bobot. Coba sampeyan turun dari kuda besi. Lanjut cek kembali jarak bebas rantai saat motor tanpa beban. Jika jarak main rantai lebih dari yang dianjurkan pabrikan, berarti setelan kekerasan sokbreker terlalu empuk. Karena, sokbreker kembali meregang dan posisi lengan ayun kembali ke awal. Pokoknya, jarak main bebas rantai diusahakan antara 20-30 mm saat tanpa beban.

Ingat itu!

PASTIKAN SETELAN DI TENGAH

Untuk penyetelan rantai, biasanya pabrikan memberi patokan dengan garis-garis di lengan ayun dan titik di penyetelnya. Pertemuan titik penyetel dan garis di lengan ayun pada sisi kiri harus sama dengan sisi lainnya.

“Jika tidak sama, bisa dipastikan as roda tidak rata tegak lurus terhadap motor. Akibatnya, posisi roda belakang tidak sejajar roda depan. Imbasnya, jalur rantai pun ikut tidak sejajar antara gir depan dengan gir belakang. Ini membuat rantai cepat rusak,” tegas Bang Jay yang berkumis itu.

Memang, pabrikan menyiapkan beberapa garis penanda di lengan ayun. Namun sebaiknya posisi titik di penyetel rantai beradi di garis tengah patokan di lengan ayun. Soalnya ini berkaitan dengan wheel-base.

“Makin mulur rantai, jarak antar roda makin jauh. Ini membuat motor jadi tidak lincah lagi. Sebaliknya, terlalu pendek jaraknya, bikin motor tidak stabil di tikungan,” warning Bang Jay.Ada kejadian di mana kita merasa rantai motor cepat kendur. Padahal power motor biasa-biasa aja. Dan cara kita memacu kuda besi tidak sering dientak-entak, buka-tutup gas mendadak. Ujung-ujungnya, kualitas rantai yang disalahkan. Lebih parah lagi sampai menyalahkan pabrikan salah mendesain.

Namun, menurut Zainudin, bukan hanya cara berkendara kita yang mempengaruhi rantai cepat kendur. “Coba perhatikan, seberapa berat beban yang diangkut motor. Dan seberapa berat medan jalan yang kita tempuh,” bilang mekanik road race kawakan dari wilayah Jelambar, Jakarta Barat.

Dari omongan tadi, Zainudin mau menjelaskan panjang kali lebar. Bahwa sesungguhnya ada hubungan antara ketegangan rantai dengan beban yang diangkut motor. Kuda besi yang sering dibebani bobot berat, rantainya akan jadi lebih sering kendur. Kalau mau diperhatikan lagi, biasanya kuda besi dengan sokbreker tunggal di belakang, alias monosok, rantainya lebih cepat kendur.

“Medan jalan keriting yang sering dilalui pun membuat rantai cepat kendur. Semakin sering lengan ayun bergerak rantai akan sering ketarik-tarik. Jika jarak mainnya terlalu sempit, maka rantai akan cepat melar. Jadi ketegangan rantai berkait dengan setelan kekerasan sokbreker,” terang mekanik yang kini menukangi tim balap Yamaha Yamalube Rafid Poppy ini.

Analisis Bang Jay, begitu biasa Zainuddin dipanggil, ketegangan rantai dipengaruhi gerak lengan ayun. Semakin besar jarak main poros lengan ayun, rantai akan makin tegang. “Makanya, dari pabrikan disarankan agar jarak bebas rantai sekitar 20-30 mm,” papar Bang Jay.

Jarak bebas yang ditentukan pabrikan tadi tentunya diperhitungkan sesuai dengan kemungkinan gerak poros swing-arm saat motor mendapat beban. Pasalnya perubahan posisi lengan ayun berpengaruh pada jarak bebas rantai.

Kaitannya dengan sokbreker, gerak lengan ayun dipengaruhi oleh kekerasan sok setelah mendapat beban. “Makin keras sokbreker, maka jarak main lengan ayun makin sempit. Makin berat beban yang dipanggul motor, maka gerak lengan ayun makin besar,” bilang Bang Jay.

Dari situ sebenarnya, kita bisa mengambil pelajaran. Untuk bisa pas menyetel ketegangan rantai, kita tidak bisa berpatokan saat motor tanpa beban diposisikan dengan standar tengah. Sebab setelan ketegangan rantai harus saat motor mendapat beban.

“Harusnya begitu! Menyetel rantai pada saat motor dinaiki dengan beban yang biasa diangkut. Jadi menyetel rantai motor yang biasa ditunggangi dua orang dengan satu orang akan beda jarak bebasnya. Usahakan agar rantai masih ada jarak bebas meski ditunggangi bobot terberat yang biasa diangkut,” tegas kiliker berpostur buncit itu.

Namun jangan keburu ngelencer setelah setelan rantai sudah disesuaikan dengan bobot. Coba sampeyan turun dari kuda besi. Lanjut cek kembali jarak bebas rantai saat motor tanpa beban. Jika jarak main rantai lebih dari yang dianjurkan pabrikan, berarti setelan kekerasan sokbreker terlalu empuk. Karena, sokbreker kembali meregang dan posisi lengan ayun kembali ke awal. Pokoknya, jarak main bebas rantai diusahakan antara 20-30 mm saat tanpa beban.

Ingat itu!

PASTIKAN SETELAN DI TENGAH

Untuk penyetelan rantai, biasanya pabrikan memberi patokan dengan garis-garis di lengan ayun dan titik di penyetelnya. Pertemuan titik penyetel dan garis di lengan ayun pada sisi kiri harus sama dengan sisi lainnya.

“Jika tidak sama, bisa dipastikan as roda tidak rata tegak lurus terhadap motor. Akibatnya, posisi roda belakang tidak sejajar roda depan. Imbasnya, jalur rantai pun ikut tidak sejajar antara gir depan dengan gir belakang. Ini membuat rantai cepat rusak,” tegas Bang Jay yang berkumis itu.

Memang, pabrikan menyiapkan beberapa garis penanda di lengan ayun. Namun sebaiknya posisi titik di penyetel rantai beradi di garis tengah patokan di lengan ayun. Soalnya ini berkaitan dengan wheel-base.

“Makin mulur rantai, jarak antar roda makin jauh. Ini membuat motor jadi tidak lincah lagi. Sebaliknya, terlalu pendek jaraknya, bikin motor tidak stabil di tikungan,” warning Bang Jay.

Maaf baru belajar ngeblog, jadi masih copy paste

Sumber Motorplus

2 thoughts on “Rantai Kendur Karena Sok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s